HIPMI Peduli

Menyikapi adanya banjir bandang besar yang melanda Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.BPP HIPMI membentuk tim HIPMI Peduli di koordinir oleh Alex Yahya Datuk. Sedangkan tim dari BPD HIPMI Sumbar adalah Heriandi Eka Putra dengan sekretaris Agung Riyanto. Sedangkan poskos HIPMI Peduli di lokasi bencana sudah berdiri sejak awal2 bencana melanda.

Bantuan untuk HIPMI Peduli dapat disalurkan ke :

Bank BCA

No.Rek : 475.0160277

a.n : Agung Riyanto

bantuan yang disalurkan berupa sembako, tenda, obat2an dan dapur umum.

Ketua Umum BPP HIPMI Raja Sapta Oktohari mengajak sekaligus mengetuk hati para pengurus dan anggota HIPMI di sluruh Indonesia untuk dapat menyisihkan rezekinya.

Bencana banjir ini telah menghanyutkan 30 rumah penduduk, menewaskan setidaknya 9 orang, kerugian diprediksi lebih dari 600 M (berdasarkan data BPBD Sumbar). Berikut salah satu liputan berita dari JPNN.

PAINAN–Sumatera Barat dikepung bencana. Tingginya curah hujan yang melanda hampir di seluruh daerah, telah menyebabkan terjadinya bencana di mana-mana. Tujuh orang diperkirakan telah tewas terseret arus banjir besar di Pessel dan Solsel. Bencana terparah menimpa Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Selain banjir dan longsor, abrasi pantai terjadi di sepanjang pantai dan memutus arus transportasi Sumbar-Bengkulu.

Hingga berita ini diturunkan, enam orang di Pessel hilang terseret banjir bandang dan diperkirakan telah tewas. Sekitar 52.123 orang mengungsi di tempat ketinggian, 296 rumah penduduk rusak, ratusan hektare sawah rusak, puluhan ternak mati. Kerugian diperkirakan mencapai Rp 650 miliar. Sepanjang 890 meter jalan negara Sumbar-Bengkulu dan 500 meter jalan kabupaten di Lunangsilaut rusak. Satu irigasi terban diterjang banjir.

Banjir melanda 48 nagari di delapan kecamatan dari 12 kecamatan di Pessel. Hanya empat kecamatan yang terhindar dari musibah itu, yakni Koto XI Tarusan, Bayang Utara, Bayang dan IV Jurai.
Adapun 8 kecamatan yang dilanda banjir, Kecamatan Batangkapas, Sutera, Lengayang, Ranahpesisir, Linggo Sari Baganti, Pancungsoal, Basa IV Balai Tapan dan Lunangsilaut.

Pantauan Padang Ekspres, bencana terparah terjadi di Kecamatan Lengayang. Di kecamatan ini, tiga warga hilang terseret galodo dan diperkirakan tewas, yakni Ismaidarni, 42, bersama anaknya Santia, 22, dan Naisa, 8. Hingga pukul 24.00 tadi malam, upaya pencarian Tim SAR belum membuahkan hasil.

Saat kejadian, Kamis pukul 04.00 dini hari, tiga korban terlihat bingung melihat banjir datang tiba-tiba. Rumah korban dikepung banjir dan jalan terban. ini Sebelum terseret arus, saksi mata melihat ketiga korban berupaya melarikan diri.

Jalan nasional di depan rumah korban saat itu amblas bersama derasnya arus banjir. Naisa, 8, yang berlarian bersama ibunya, kalah cepat dengan runtuhnya badan jalan, sehingga terseret. Upaya penyelamatan yang dilakukan sang ibu bersama sang kakak Santia, 22, ternyata tidak membuahkan hasil. Akhirnya, ketiganya terseret banjir yang menyeretnya ke laut di seberang jalan rumahnya.

Selain tiga orang itu, Asisten I Setkab Pessel, Mawardi Roska dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pessel, Nasharyadi tadi malam mengungkapkan, data terakhir terdapat tiga korban lagi yang hilang terseret banjir bandang dan diperkirakan juga tewas, yakni Kidit, 65, Rayos, 24, dan anaknya Rayos yang masih berusia 9 bulan. Bayi itu anak Royas, atau cucu dari Kidit.

Ketiganya terseret banjir di Pasir Putih Kambang, tepatnya di Rantau Simalenang, Nagari Airhaji, Kecamatan Linggo Sari Baganti. Ketiganya hanyut ketika gubuk yang ditempati keluarga ini ambruk diterjang banjir.”"Sebelumnya di gubuk itu ada empat orang, tapi seorang penghuni berhasil selamat karena memegang sesuatu untuk mempertahankan diri,”" kata Mawardi.

Upaya pencarian korban telah dilakukan, tapi belum membuahkan hasil.”"Akses di Pasir Putih Kambang terputus. Satu orang yang selamat itu belum diketahui pasti apakah suami dari Royas,”" terang Mawardi.

Keenam korban yang hilang itu, diperkirakan Nasharyadi sudah tewas terseret arus deras dan tidak ditemukan hingga tadi malam.”"Tiga tewas di Lengayang dan tiga lagi di Linggo Sari Baganti,”"kata Nasharyadi.

Jalan Putus dan Longsor

Selain itu, banjir juga mengakibatkan ruas jalan nasional di Pasir Putih Kambang, Nagari Kambang Barat putus sepanjang 700 meter sehingga arus transportasi dari Sumbar ke Bengkulu lumpuh total. Antrean kendaraan terlihat hingga belasan kilometer dari arah Padang dan Bengkulu.

Diperkirakan, hingga 90 hari ke depan, arus transportasi jalur selatan Sumbar-Bengkulu via Kabupaten Kerinci, Jambi ini, belum bisa dilewati. Tidak hanya itu. Sebanyak 6 rumah terseret banjir hingga ke dalam laut, sedangkan 28 unit rumah lainnya mengalami rusak berat.

Sedangkan di Nagari Kambang Timur di kecamatan yang sama, terjadi longsor sepanjang 400 meter, tepatnya di Kampung Kapau dan Kotokandis. Walau tidak menimbulkan korban jiwa, tapi delapan rumah rusak berat tertimpa longsor. Banjir juga terjadi di Kampung Tampunik di nagari yang sama. Kondisi serupa juga terjadi di Kampung Pulai, Nagari Lakitan Timur. Total rumah yang terendam di kecamatan ini mencapai ratusan unit.

“”Selain itu, proyek normalisasi sungai sepanjang 600 meter di Kayugadang juga porak-poranda, padahal akan diserah terimakan besok (hari ini, red) dengan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sumbar. Jembatan gantung di Timbulun yang merupakan sarana transportasi satu-satunya warga Langai dan Kayuaro di Nagari Sutera, juga putus diterjang banjir Rabu malam,”" ungkap Rusli, tokoh masyarakat setempat.

Nasharyadi menyebutkan, bencana saat ini terparah sepanjang sejarah.”"Bencana ini bukan saja banjir, tapi juga longsor dan abrasi,”" ujarnya. Dampak yang ditimbulkan akibat bencana ini sangat besar, sebab bencana ini telah mengakibatkan putusnya arus transportasi Padang, Bengkulu dan Jambi.

Berdasarkan hitungan sementara, kata dia, besar kerugian mencapai Rp 650 miliar. Selain merusak infrastruktur jalan dan jembatan, juga bangunan milik masyarakat, pertanian, perkebunan hewan ternak dan lainya. Karena terputusnya sarana jalan di Pasir Putih Kambang, akses menuju permukiman warga yang terkena banjir dan longsor sulit dijangkau. Jumlah rumah yang terendam mencapai 17 ribu unit.

Banjir yang melanda 12 kecamatan, membuat camat masing-masing siaga penuh. Camat Lengayang, Murdinal Guswandi mengatakan, sekitar 300 meter kondisi jalan di Pasir Putih Kambang rusak berat. Ratusan rumah warga terbenam.

Sedangkan Camat Pancungsoal, Alfis Basyir menyebutkan ketinggian air di 4 nagari mencapai 5 meter. Sekitar 1.350 jiwa terisolir. Mujur, dua warganya yang hanyut; Arman, 45, dan anaknya Ridho, 9, berhasil diselamatkan warga bersama Tim SAR.

Pemprov Sumbar cepat merespons bencana besar melanda Pessel. Sekretaris Provinsi (Setprov) Sumbar, Ali Asmar menyebutkan, dari 890 meter jalan negara yang putus, 700 meter berada di Indropuro, 190 meter di Sungailiku.

Pemprov telah membentuk tim yang terdiri dari BPBD Sumbar, Biro Sosial Setprov Sumbar, dan Dinas Sosial Sumbar, kemarin. Besok, Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim berencana menyalurkan bantuan logistik untuk warga di pengungsian. Untuk obat-obatan, langsung dibawah koordinasi Dinas Kesehatan Sumbar dan Dinas Kesehatan Pesisir Selatan. (yo/mg15/mg9/ztl/sih/ cp/rm/mg7)

No related posts.

Ping your blog, website, or RSS feed for Free

About tim.it